Lembar Kegiatan Siswa (LKS) - Hardy Math

Wednesday, August 3, 2016

Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

Lembar Kegiatan Siswa (LKS) menurut Depdiknas (2008: 23) merupakan lembaran-lembaran kegiatan berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. LKS memuat judul, KD yang akan dicapai, waktu penyelesaian, perangkat/bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, informasi singkat, langkah kerja, tugas yang harus dikerjakan, dan laporan yang dikerjakan. Langkah-langkah dalam menyusun LKS menurut Depdiknas (2008: 23) adalah sebagai berikut.
a.    Analisis Kurikulum.
Analisis kurikulum bertujuan untuk menentukan materi-materi yang memerlukan bahan ajar LKS.
b.   Penyusun peta kebutuhan LKS.
Peta Kebutuhan sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah LKS yang harus ditulis dan urutannya.
c. Penentukan judul-judul LKS.
Judul LKS ditentukan atas dasar KD-KD, materi-materi pokok atau pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum.
d.   Penulisan LKS
Penulisan LKS dapat dilakukan dengan langka-langkah sebagai berikut:
1)   Perumusan KD yang harus dikuasai
2)   Penentukan alat Penilaian
3)   Penyusunan Materi
4)    Struktur LKS    


Struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut:
a)    Judul
b)   Petunjuk belajar (Petunjuk Siswa)
c)    Kompetensi yang akan dicapai
d)   Informasi pendukung
e)    Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja
f)    Penilaian

Syarat yang harus dipenuhi dalam penyusunan LKS atau LKS agar diperoleh dengan kualitas baik menurut Darmodjo dan Kaligis (1992) antara lain:
1)   Syarat didaktik
Penggunaan LKS dapat digunakan oleh seluruh siswa, dengan berbagai perbedaan kemampuan. LKS pada proses penemuan konsep, fungsi dari LKS sebagai petunjuk dalam pembelajaran untuk mencari informasi, bukan sebagai alat pemberi informasi.
2)   Syarat konstruksi
Berhubungan dengan penggunaan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan siswa, penggunaan struktur kalimat yang jelas, kosa kata, tingkat kesukaran dan kejelasan dalam LKS. Beberapa syarat konstruksi antara lain :
a)    Penggunaan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anak.
b)   Penggunaan struktur kalimat yang jelas.
c)    Tata urutan LKS yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, berawal dari hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang lebih kompleks.
d)   Penyediaan ruang yang cukup untuk memberi keluasaan pada siswa untuk menulis dan menggambarkan hal-hal yang ingin disampaikan oleh siswa.
e)    Penggunaan kalimat sederhana dan pendek.
f)    Penggunaan lebih banyak ilustrasi daripada kata-kata.
g)   Digunakan untuk seluruh siswa dengan berbagai perbedaan kemampuan.
3)   Syarat teknis
a)    Tulisan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penulisan LKS antara lain:
-       Penggunaan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin/romawi.
-       Penggunaan huruf yang agak besar untuk topik.
-       Penggunaan maksimal kata dalam satu baris.
-       Penggunaan bingkai untuk membedakan kalimat perintah dan jawaban siswa.
-       Perbandingan antara huruf dan gambar dengan serasi.
b)   Gambar
Gambar yang baik dapat menyampaikan pesan secara efektif pada penggunaan LKS.
c)    Penampilan
LKS yang baik harus memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan.

Kegunaan LKS menurut Prastowo (2012: 205) antara lain:
1)   Sebagai bahan media pembelajaran yang dapat meminimalkan peran guru, namun lebih mengaktifkan siswa.
2)   Sebagai media pembelajaran yang mempermudah siswa untuk memahami materi yang diberikan.
3)   Sebagai media pembelajaran yang ringkas dan banyak tugas untuk berlatih.
4)   Memudahkan pelaksanaan pembelajaran kepada siswa.

Tujuan dilakukan penyusunan LKS menurut Prastowo (2012: 206), yaitu:
1)   Menyajikan media pembelajaran yang memudahkan siswa untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan.
2)   Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan pengusaan siswa terhadap materi yang diberikan.
3)   Melatih kemadirian siswa.
4)   Memudahkan guru dalam memberikan tugas kepada siswa.

Manfaat yang diperoleh dengan penggunaan LKS dalam proses pembelajaran menurut Prastowo (2012: 206) adalah sebagai berikut:
1)   Mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran.
2)   Membantu siswa dalam mengembangkan konsep-konsep.
3)   Melatih siswa dalam menemukan dan mengembangkan keterampilan proses.
4)   Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.
5)   Membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.

Daftar Pustaka:

Darmodjo dan Kaligis.

Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Depdiknas.

Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif; Menciptakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Diva Press: Yogyakarta. 419 hlm



No comments:

Post a Comment