Pola Belajar Tutor Sebaya - Hardy Math

Saturday, March 3, 2012

Pola Belajar Tutor Sebaya

A.    Pola Belajar
Banyak ragam pola belajar yang dikemukakan oleh para ahli, banyak pula perbedaan variasi dan streessing (penekanan) dari suatu pola belajar oleh masing-masing ahli. Menurut Sriyono (dalam Roestiyah, 2000:106) menyatakan:
Pola belajar adalah rangkaian prosedur dalam belajar yang dapat membantu siswa dalam menguasai materi pelajaran. Pola belajar di antaranya pola belajar mandiri, pola belajar terbimbing, pola belajar kelompok, pola belajar diskusi, dan lain-lain. Masing-masing dari pola belajar tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam pelaksanaannya pola belajar mandiri telah biasa dilakukan oleh siswa dirumahnya masing-masing.


Menurut Alma (2008:78) menyatakan bahwa:
       Dilihat dari sudut penyusunan strategi belajar mengajar, maka ada beberapa pola belajar yang dapat dipertimbangkan oleh guru dan siswa agar kegiatan belajar mengajar  dapat berjalan secara teratur menurut pola tertentu. Dalam pola belajar ini akan sekaligus tercerminkan sikap guru dan kegiatan siswa serta interaksi antara keduanya. Pola-pola belajar itu diantara terdiri dari pola belajar individu, pola belajar kelompok, pola belajar terbimbing, pola belajar leaving (meninggalkan), pola belajar supervising (supervisi)”.

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pola belajar adalah rangkaian prosedur dalam kegiatan belajar mengajar yang nantinya akan mampu membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajarnya. Dilihat dari sudut penyusunan strategi belajar mengajarnya maka pola belajar itu di antaranya terdiri dari pola belajar individu, pola belajar kelompok, pola belajar terbimbing. Pola belajar leaving, pola belajar supervisi.
Lebih lanjut, Roestiyah (2000:58) menyimpulkan:
       Bila kita membicarakan mengenai pola belajar, berarti kita akan mebicarakan tentang: komponen-komponen dasar dalam proses belajar secara menyeluruh, model pembelajaran, dan jenis dan tingkah laku kepemimpinan guru sebagai pribadi yang mengarahkan, mengawasi dan mengatur pelaksanaannya.

Menurut Glasser (dalam Rohani, 2004:74) mengemukakan ada 4 komponen pola belajar yaitu:
a.    IO (Instruksional Objektives) atau Tujuan Pengajaran.
b.    EB (Entering/Entry Behavior) atau Pengenalan Kemampuan Awal.
c.    IP (Instruksional Procedures) atau Proses Mengajar/Pengajaran.
d.   PA (Performance Assesment) atau Penilaian Terhadap Capaian Tujuan Pengajaran.

Lebih jauh, Alma (2008:79) mengemukakan:
       Pola belajar dapat dijadikan pertimbangan dasar dalam menampilkan keterampilan-keterampilan mengajar secara tepat termasuk pemilihan metode mengajar”. Namun demikian pemilihan pola mengajar inipun biasanya dilakukan atas pertimbangan: “(1) tujuan pengajaran; (2) karakteristik bahan yang diajarkan; (3) alokasi waktu yang tersedia; (4) karakteristik siswa; (5) kemampuan guru itu sendiri.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan dalam penyusunan pola belajar harus mempertimbangkan komponen-komponennya yaitu: tujuan pengajaran, pengenalan kemampuan awal, proses pengajaran dan penilaian terhadap capaian tujuan pengajaran.

B.    Pola Belajar Bimbingan Tutor Sebaya
Dalam pembelajaran matematika sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan oleh guru kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun usaha itu belum menunjukan hasil yang optimal. Rentang nilai siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai terlalu mencolok. Untuk itu perlu diupayakan pula agar rentang nilai antar siswa tersebut tidak terlalu jauh yaitu dengan memanfaatkan siswa yang pandai untuk menularkan kemampuannya pada siswa lain yang kemampuannya lebih rendah. Tentu saja guru yang menjadi perancang model pembelajaran harus mengubah bentuk pembelajaran yang lain.
Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran tutor sebaya. Menurut Kuswaya Wihardit (dalam Anonim, 2010) menuliskan bahwa:
Pengertian tutor sebaya adalah seorang siswa pandai yang membantu belajar siswa lainnya dalam tingkat kelas yang sama. Di sisi lain yang menjadikan matematika dianggap siswa sebagai pelajaran yang sulit adalah dalam pembahasaannya. Dalam hal tertentu siswa lebih paham dengan bahasa teman sebayanya daripada bahasa guru. Itulah sebabnya pembelajaran tutor sebaya diterapkan dalam proses pembelajaran matematika.

Sedangkan menurut Arikunto (dalam Nurhayati, 2010) menyatakan bahwa: “tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas”.
Sedangkan Hisyam Zaini (dalam Anonim, 2010) menyatakan bahwa:
       Metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu siswa di dalam mengajarkan materi kepada teman-temannya.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang yang dipercaya oleh guru melalui beberapa aspek penilaia mampu membimbing teman sebayanya dalam kegiatan belajar mengajar ditingkat kelas yang sama.
Untuk menentukan seorang tutor ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang siswa yaitu siswa yang dipilih nilai prestasi belajar matematikanya tinggi, dapat memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar. Arikunto mengemukakan bahwa dalam memilih tutor perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Tutor dapat diterima (disetujui) oleh mayoritas siswa sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya.
b.       Tutor dapat menerangkan bahan yang akan diajarkan yang dibutuhkan oleh siswa yang lain dalam kegiatan belajar mengajar.
c.       Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
d.      Tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.

Menurut Djamarah (2006:25) menerangkan bahwa untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tutor diperlukan pertimbangan-pertimbangan sendiri, diantaranya adalah:
1)      Memiliki kepandaian lebih unggul dari pada yang lain.
2)      Memiliki kecakapan dalam menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru.
3)      Mempunyai kesadaran untuk membantu teman lain.
4)      Dapat menerima dan disenangi siswa yang mendapat program tutor sebaya, sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepada yang pandai dan rajin.
5)      Tidak tinggi hati, kejam, atau keras hati terhadap sesama kawan.
6)      Mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan atau yaitu dapat menerangkan kepada kawannya.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemilihan tutor sebaya diperlukan pertimbangan-pertimbangan yaitu: memiliki kepandaian yang lebih ungngul dari teman-temanya, tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan, memiliki kecakapan dalam menerima pelajaran, dan mempunyai kreativitas dalam membimbing dan menerangkan materi pelajaran kepada kawannya.
Menurut Suryono dan Amin (dalam Djamarah, 2006:35) menyatakan ada beberapa kelebihan dan kelemahan bimbingan tutor sebaya antara lain :
Adapun kelebihan bimbingan tutor sebaya adalah sebagai berikut :
1)      Adanya suasana hubungan yang lebih akrab dan dekat antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu.
2)      Bagi tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar.
3)      Bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak yang dibantu.
4)      Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab akan kepercayaan.

Adapun kelemahan bimbingan tutor sebaya adalah sebagai berikut :
1)      Siswa yang dipilih sebagai tutor sebaya dan berprestasi baik belum tentu mempunyai hubungan baik dengan siswa yang dibantu.
2)      Siswa yang dipilih sebagai tutor sebaya belum tentu bisa menyampaikan materi dengan baik.

Dari pendapat di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa bimbingan tutor sebaya memilki beberapa kelebihan dan kelemahan yang saling berkaitan. Kelebihannya suasana belajar menjadi lebih akrab, lebih efisien dan mampu meningkatkan rasa tanggung jawab serta menambah motivasi belajar bagi tutor sebaya. Sedangkan kelemahannya, tutor sebaya yang dipilih belum tentu mampu menyampaikan materi kepada temannya dan antara keduanya belum tentu ada hubungan yang baik.

a.    Pola Belajar Bimbingan Tutor Sebaya secara Kelompok
Istilah kelompok dipakai untuk merangkum pengertian di mana siswa dalam satu kelompok dipandang dalam satu kesatuan tersendiri, untuk mencari satu tujuan pembelajaran yang tentu dengan gotong royong. Menurut Sagala (2003: 215) memandang bahwa:
       Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok, mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri, ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil atau sub-sub kelompok. Kelompok dapat dibuat berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan minat dan bakat belajar, jenis kegiatan, wilayah tempat tinggal, random dan sebagainya.

Sedangkan menurut Hamalik (dalam Sutrisni: 2008: 59) menyatakan bahwa:
Belajar kelompok dilaksanakan dalam suatu proses kelompok para anggota saling berhubungan dan berpartisipasi, memberikan sumbangan untuk mencapai tujuan bersama. Proses kelompok mempunyai karakteristik atau segi-segi relasi, interaksi, partisipasi, kontribusi afeksi, dan dinamika.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar kelompok adalah pembentukan siswa dalam kelompok-kelompok yang dapat dibentuk dari perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan minat dan bakat, dan sebagainya dalam memberikan sumbangan untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Hamalik (2004: 189) menyatakan:
       Pada dasarnya tutorial sebaya secara berkelompok berdasarkan pada hubungan teman sebaya yang membimbing sekelompok siswa sejawatnya yang terdiri dari empat sampai lima orang siswa sekaligus pada waktu yang sama. Pendekatan tutorial kelompok lebih menitikberatkan pada kegiatan bimbingan-bimbingan individu-individu dalam kelompok.

Kalau kita definisikan secara singkat kelompok sebaya terdiri dari individu yang rata-rata usianya hampir sama. Menurut Silberman (2000:157) bahwa:     
       Suatu mata pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila seorang peserta didik mampu mangajarkan kembali pada peserta didik lain dalam kelompok belajar dan mengajar teman sebaya memberikan kesempatan pada peserta didik dalam mempelajari sesuatu dengan lebih baik pada waktu yang sama, ia menjadi narasumber bagi yang lain.

Dari kedua pendapat di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa bimbingan tutor sebaya secara kelompok berdasarkan pada hubungan tutor sebaya dengan teman sejawatnya yang lebih menitikberatkan pada kegiatan bimbingan individu-individu dalam kelompok sehingga tutor sebaya harus mampu belajar  menjadi narasumber bagi teman yang lain.
Untuk dapat mempertahankan keakraban dan rasa memiliki di dalam kelompok maka perlu diperhatikan jumlah anggota kelompok tersebut. Agar penyelenggaraan belajar melalui pembelajaran kelompok tutor sebaya dapat berlangsung dengan baik maka perlu diperhatikan langkah-langkah pelaksanaannya. Adapun menurut Djamarah (2005: 31) langkah-langkah yang digunakan dalam pembelajaran matematika yang menerapkan bimbingan belajar kelompok dengan tutor sebaya adalah sebagai berikut:
1)      Memilih tutor sebanyak 4-5 orang dengan syarat:
a.     Termasuk dalam peringkat 10 terbaik berdasarkan nilai rapor atau nilai evaluasi sebelumnya.
b.    Dapat menguasai materi pelajaran.
2)      Mengelompokkan sisiwa menjadi beberapa kelompok.
3)      Pengelompokan dilakukan menurut tingkat kecerdasan siswa, yaitu setiap kelompok terdiri dari siswa pandai, sedang dan kurang.
4)      Membahas beberapa contoh soal yang berhubungan dengan materi yang diajarkan.
5)      Memberikan bimbingan sesuai dengan kesulitan yang dihadapi siswa dengan bantuan tutor sebaya.
6)      Mengisi lembar observasi, pengamatan, dan pengidentifikasian siswa selama kegiatan belajar mengajar antara lain: absent, dan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam bimbingan tutor sebaya secara kelompok diperlukan langkah-langkah dalam pemilihan tutor sebaya yaitu: memilih tutor sebaya menurut prestasi belajarnya dan  tingkat kecerdasannya kemudian dimasukkan dalam setiap kelompok, diberikan permasalahan kemudian membimbing siswa yang lain sesuai kesulitan yang dihadapi.
Menurut Sagala (2003 :216) menyatakan ada beberapa kelebihan dan kelemahan tutor sebaya secara berkelompok antara lain :
Adapun kelebihan tutor sebaya secara berkelompok anatara lain:
1)      Membiasakan siswa bekerja sama menurut paham demokrasi, memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan sikap musyawarah dan bertanggung jawab.
2)      Membangkitkan kemauan belajar bersunguh-sungguh.
3)      Guru tidak perlu mengawasi masing-masing murid secara individual, cukup hanya dengan memperhatikan kelompok saja atau tutor-tutor kelompoknya. Penjelasan tentang tugas pun dapat dilakukan hanya melalui tutor kelompoknya.
4)      Melatih tutor kelompok menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan membiasakan anggota-anggotanya untuk melaksanakan tugas kewajiban sebagai warga yang patuh pada peraturan.

Adapun kelemahan tutor sebaya secara berkelompok antara lain:
1)      Segi penyusunan kelompok yakni :
a.       Sulit untuk membuat kelompok yang homogen, baik intelegensi, bakat .dan minat, atau daerah tempat tinggal.
b.      Murid-murid yang oleh guru telah dianggap homogen, sering tidak cocok dengan anggota kelompoknya itu.
c.       Pengetahuan guru tentang pengelompokan itu kadang-kadang masih belum mencukupi.
2)      Segi kerja kelompok yakni :
a.       Tutor kelompok kadang-kadang sukar untuk memberikan penertian kepada anggota, sulit untuk menjelaskan dan mengadakan pembagian kerja.
b.       Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin kelompok.
c.       Dalam belajar bersama kadang-kadang tidak terkendali sehingga menyimpang dari rencana yang berlarut-larut.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan tutor sebaya secara kelompok memiliki kelebihan bagi siswa mampu mwningkatkan kegiatan belajar dengan lebih giat dan demokratis. Dan bagi guru lebih efisien dalam mengaasdi kegiatan belajar secara kelompok. Sedangkan kelemahannya terutama dalam segi penyusunan kelompok dan segi kegiatan belajarnya yang terkadang menyimpang dari yang direncanakan.

b.    Pola Belajar Bimbingan Tutor Sebaya secara Klasikal
Pembelajaran klasikal menurut Syaiful Sagala (dalam Taufiq, 2009) diartikan sebagai: “pembelajaran klasikal adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada sejumlah siswa secara bersama-sama, yang biasanya dilakukan oleh pengajar dengan berceramah di kelas.
Sedangkan menurut Erman (dalam Anonim, 2010) pembelajarn klasikal diartikan sebagai:
Pembelajaran yang memandang siswa berkemampuan tidak berbeda sehingga mereka mendapat pelajaran secara bersama, dengan cara yang sama dalam satu kelas sekaligus. Model yang digunakan adalah pembelajaran langsung (direct learning). Pembelajaran tergantung proses kegiatan yang dilaksanakan, yaitu apakah semua siswa berartisipasi secara aktif terlibat dalam pembelajaran, atau pasif tidak terlibat, atau hanya mendengar dan mencatat.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran klasikal adalah pembelajaran yang memandang kemampuan siswa sama, yang diajarkan secara bersama-sama di dalam kelas dengan model pembelajaran langsung dari guru yang biasanya menggunakan metode ceramah dalam penyampaiannya.
Penyelenggaraan belajar melalui bimbingan tutor sebaya secara  klasikal akan memberikan manfaat yang lebih banyak yaitu meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa dalam belajar sehingga akan meningkat. Menurut Perceivel Huston (dalam Ahmadi, 2004:115):
Tutor sebaya yang dapat berperan sebagai pembimbing yang efektif adalah mereka yang mempunyai kemampuan (kelebihan dalam hal mengajar bidang studi): 1)Dapat menimbulkan minat dan semangat dalam bidang studi yang diajarkan. 2)Memiliki kecakapan sebagai pemimpin. 3)Dapat menghubungkan materi pelajaran dalam pengerjaan praktis.

Lebih lanjut Huston (dalam Ahmadi, 2004: 120) menyatakan bahwa: “tutor sebaya yang diterapkan secara menyeluruh dalam kelas akan mampu menimbulkan semgangat belajar siswa yang lainnya jika didukung olah kemampuan siswa itu sendiri dan arahan terus menerus dari guru”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan tutor sebaya secara klasikal adalah hubungan tutor sebaya dengan teman sejawatnya secara menyeluruh dalam kelas yang nantinya harus didukung oleh kemampuan tutor itu sendiri dan guru yang bersangkutan.
Semiawan (dalam Sagala, 2003:145) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam bimbingan tutorial yang dilaksanakan di dalam kelas secara berkelompok  yaitu:
1)      Guru memberikan gambaran umum tentang topik yang akan dibahas kepeda siswa yang pandai.
2)      Beberapa siswa yang pandai sekitar 6-8 orang mempelajari suatu topik di rumah.
3)      Siswa yang pandai menjadi tutor sebaya dalam kelas besar dan membimbing teman sabayanya yang memerlukan bimbingan.
4)      Guru juga memberikan bimbingan kepada siswa yang memerlukan bimbingan.
5)      Jika ada masalah yang tidak dapat dipecahkan siswa yang pandai meminta bantuan kepada guru.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langakh pembelajaran tutor sebaya secara klasikal yaitu: guru memanggil 6-8 siswa yang mampu untuk menjadi tutor, kemudian guru memberikan permasalahan untuk dipecahkan secara individu dengan bantuan tutor.
Menurut Sagala (2003: 187) menyatakan belajar dengan bimbingan  tutor sebaya secara klasikal mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan, yaitu:
Adapun kelebihan bimbingan tutor sebaya secara klasikal di antaranya:
1)       Mudah untuk membimbing dan mengajarkan siswa dengan dibantu tutor sebaya.
2)      Pengajaran lebih terkontrol dan keberhasilan tutor sebaya dapat terlihat saat pengajarn berlangsung.
3)      Tidak memandang siswa dalam kondisi homogen maupun heterogen sehingga tidak banyak waktu yang diberikan guru sehingga guru tak perlu mengawasi setiap waktu.

Adapun kelemahan bimbingan tutor sebaya secara klasikal di antaranya:
1)      Belajar klasikal cenderung menempatkan siswa dalam posisi pasif, sebagai penerima bahan ajaran bila tanpa bimbingan yang memadai.
2)      Pembelajaran klasikal hanya efektif dilakukan dalam kelas besar.
3)      Tidak memperhatikan kemampuan siswa.
4)      Walaupun sudah ada tutor sebaya tapi kebanyakan siswa masih cenderung takut dalam bertanya.
5)      Kegiatan pembelajaran bersifat menerima atau menghafal.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan dari bimbingan tutor sebaya secara klasikal adalah lebih mudah dalam membimbing dan mengontrol siswa secara klasikal, tidak memandang siswa dalam kondisi homogen ataupun heterogen. Sedangkan kelemahannya siswa cenderung pasif, kurang memperhatikan kemampuan siswa dan siswa masih cenderung malu untuk menanyakan suatu permasalahan walaupun dengan tutor sebayanya.

5 comments:

  1. artikelnya sangat menarik tapi sayang sumber referensi tidak di cantumkan dalam artikel ini,

    ReplyDelete
  2. artikelnya menarik ddan sangat membantu, tetapi refensinya tidak di cantumkan

    ReplyDelete
  3. iya mas saya penasaran referensi yang tentang pola belajar yang dalam bukunya roestiyah.. mohon informasinya nggeh mas..

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete