Konstruktivisme (Vigotsky) - Hardy Math

Tuesday, January 15, 2013

Konstruktivisme (Vigotsky)

Mengapa ada siswa yang menyatakan bahwa ? Ada juga siswa yang menyatakan bahwa (a + b)2 = a2 + b2? Begitu juga, ada siswa SMA yang menyatakan sin (a + b) = sin a + sin b?

A.       Apa Inti Konstruktivisme?
 Ketika penulis bertanya kepada salah seorang siswa, mengapa ia menyatakan (a + b)2 = a2 + b2? Jawabannya adalah karena 2(a + b) = 2a + 2b. Alasan yang sama kemungkinan besar akan dilontarkan bagi siswa yang menyatakan sin (a + b) = sin a + sin b. Hal ini telah menunjukkan bahwa si siswa secara aktif telah menanggapi hal-hal yang menarik hatinya, dan didasarkan pada pengetahuan yang ada pada struktur kognitifnya. Jelaslah bahwa teori yang dikemukakan siswa tadi telah didasarkan kepada pengetahuan yang sudah ada di dalam benaknya. Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan akan tersusun atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasar pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya, sebagaimana dinyatakan Bodner (1986:873): “… knowledge is construsted as the learner strives to organize his or her experience in terms of preexisting mental strustures”. Dengan demikian, pengetahuan tidak dapat dipindahkan dengan begitu saja dari otak seorang guru ke otak siswanya. Setiap siswa harus membangun pengetahuan itu di dalam otaknya sendiri-sendiri.

Para ilmuwan pernah menyatakan bahwa benda-benda langit berputar mengelilingi bumi. Pendapat yang salah ini dapat bertahan selama dua abad lamanya. Jika para ilmuwan dapat melakukan kesalahan, maka para siswa akan dapat melakukan kesalahan dengan kadar yang jauh lebih tinggi karena keterbatasan pengalaman, penalaran dan pengetahuan prasyarat mereka. Di dalam ruang kelas, ada siswa yang menyatakan bahwa 1 : ½ = ½. Mungkin saja, 1 : ½ telah diperlakukan seperti memperlakukan 1 : 2. Contoh ini sebetulnya telah menunjukkan inti dari teori konstruktivisme, yaitu para siswa akan secara aktif membangun pengetahuannya, dalam hal ini ia secara tidak sadar telah membangun suatu teori atau pengetahuan bahwa: 1 : ½ = ½ berdasar pada pengetahuan yang sudah dimilikinya, yaitu 1 : 2. Hal yang sama terjadi pada siswa yang menyatakan (a + b)2 = a2 + b2 dan sin (p – q) = sin p – sin q berdasar pada pengetahuan bahwa 2(a + b) = 2a + 2b.

Siswa tadi jelas melakukan suatu kesalahan yang sangat mendasar. Meskipun begitu, seorang siswa tidak akan memberikan jawaban yang salah itu dengan sengaja. Artinya, ia akan tetap meyakini kalau jawaban itu benar adanya. Inti dari teori konstruktivisme lainnya adalah, mengajar tidak dapat disamakan dengan mengisi air ke dalam botol atau menuliskan informasi pada kertas kosong. Proses pembelajaran akan berhasil hanya jika para siswa tersebut telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengolah dan mencerna informasi baru tersebut dengan menyesuaikannya pada pengetahuan yang telah tersimpan di dalam kerangka kognitifnya ataupun dengan mengubah kerangka kognitifnya tersebut. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab sekarang adalah: antisipasi apa yang harus dilakukan agar siswa tidak melakukan kesalahan seperti itu lagi.

B.        Konstruktivisme Sosial dari Vigotsky?

Mengapa sebagaian orang Indonesia kesulitan mempelajari Bahasa Inggris dan kalah cepat untuk mempelajarinya dari anak-anak di Inggris? Apa yang menyebabkan anak-anak di Ingris sangat cepat belajar Bahasa Inggris. Berdasar fenomena yang disampaikan ini, tidaklah salah jika Lev Vygotsky lalu menyatakan bahwa interaksi sosial, dalam arti interaksi individu tersebut dengan orang lain merupakan salah satu faktor penting yang dapat memicu perkembangan kognitif seseorang. Seorang anak kecil di Indonesia akan dengan cepat belajar Bahasa Indonesia dibandingkan dengan orang dewasa Inggris yang kurang berinteraksi dengan masyarakat yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-harinya.

Vygotsky juga menyatakan bahwa setiap anak memiliki zona perkembangan proksimal (ZPD atau Zone of Proximal Development) yang merupakan selisih antara tingkat perkembangan siswa yang aktual, tanpa bantuan dan dukungan orang lain yang lebih dewasa dan lebih berpengalaman, dengan perkembangan siswa jika ia mendapatkan bantuan atau dukungan dari orang yang lebih kompeten. Dukungan dan bantuan dari orang yang lebih berkompeten yang menyebabkan terjadinya ZPD itulah yang disebut dengan dukungan dinamis atau scaffolding.

C.    Implikasinya Pada Proses Pembelajaran

Sebagaimana sudah dinyatakan, tidak setiap pengetahuan dapat dipindahkan dengan mudah dari otak seorang guru ke dalam otak murid-muridnya. Hanya dengan usaha keras tanpa mengenal lelah dari siswa sendirilah suatu pengetahuan dapat dibangun dan diorganisasikan ke dalam kerangka kognitif si siswa tadi. Manurut paham konstruktivisme, seorang siswa harus membangun sendiri pengetahuan tersebut. Karenanya seorang guru dituntut menjadi fasilitator proses pembelajarannya. Berikut ini adalah contoh pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa. Mungkin cara ini sudah pernah dilakukan para guru yang sedang mengikuti diklat ini.
  

RENCANA PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran: Matematika
Kemampuan Dasar: 10. Melakukan kegiatan Statistika

A.     Indikator: Siswa dapat menghitung mean data tunggal dan menjelaskan maknanya.
B.     Materi pembelajaran:
·         Mean data tunggal
·         Makna mean
C.     Media
1.      Batu kecil, mur, kelereng, manik-manik, atau yang sejenisnya
2.      OHP dan transparansi, papan tulis, kapur, dll
D.     Skenario Pembelajaran
1.      Kepada tiga siswa pada tiap kelompok diberikan batu kecil sebanyak 10, 10, dan 7.
2.      Minta kepada tiga siswa tadi untuk membagi sama batu kecil yang didapat.
3.      Diskusikan secara kelompok cara membagi sama batu kecil tersebut.
4.      Diskusikan secara pleno cara membagi sama batu kecil tersebut. Alternatifnya:
a.        Siswa yang mendapat 10 buah batu kecil memberikan salah satu batu kecilnya kepada siswa yang memiliki 7 batu kecil
b.        Seluruh batu kecil dikumpulkan lalu dibagi tiga.
5.      Dari kegiatan 3 di atas, dibahas pengertian rata-rata hitung sebagai hasil bagi jumlah semua ukuran dengan banyaknya ukuran
6.      Membahas makna mean dengan siswa.
7.      Meminta siswa menentukan rata-rata nilai matematika 10 orang siswa berikut: 8, 8, 7, 7, 5, 7, 6, 7, 7, 6 dengan berbagai cara. Diskusikan cara mereka mendapatkan rata-rata nilai tersebut.
8.      Dari kegiatan 5 di atas, dibahas salah satu cara mendapatkan rata-rata hitung suatu data, yaitu
9.      Meminta siswa menentukan rata-rata nilai matematika 10 orang siswa berikut: 108, 108, 107, 107, 105, 107, 106, 107, 107, 106. Diskusikan cara mereka mendapatkan rata-rata nilai tersebut.

E.      Penilaian
1.      Tentukan mean (rata-rata), median, dan modus dari data berikut:
a.        4, 9, 6, 6, 7, 7, 3, 5, 6, 5.
b.        44, 49, 46, 46, 47, 47, 43, 45, 46, 45.
c.        40, 90, 60, 60, 70, 70, 30, 50, 60, 50.
Hal menarik apa saja yang dapat Anda nyatakan dari hasil itu? Apakah hal itu terjadi secara kebetulan saja ataukah dapat dibuktikan?
2.      Hitunglah nilai rata-rata dari data berikut:

Nilai (x)
6
7
8
9
10
Banyak anak (f)
5
7
14
8
6

Guru mengamati dan berdiskusi dengan siswa atau kelompok siswa untuk membantu, dan mengarahkan mereka.

Contoh di atas menunjukkan peran guru sebagai seorang fasilitator dalam membantu siswanya agar dapat dengan mudah mengkonstruksi sendiri pengetahuan tentang rataan. Agar suatu pengalaman baru dapat terkait dengan pengetahuan yang sudah ia miliki, maka proses pembelajaran harus dimulai dari pengetahuan yang sudah ada di dalam pikiran siswa (sudah ada kerangka kognitifnya) ataupun mudah ditangkap siswa (mudah dibangun kerangka kognitifnya). Namun paling penting dan mendasar, tugas utama seorang guru adalah menjadi fasilitator sehingga proses pembelajaran di kelasnya dapat dengan mudah membantu para siswa untuk membentuk (mengkonstruksi) pengetahuan yang baru tersebut ke dalam kerangka kognitifnya.

No comments:

Post a Comment