Kooperatif Think Pair Share - Hardy Math

Saturday, March 3, 2012

Kooperatif Think Pair Share

A.      Pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran.
Menurut Slavin (dalam Isjoni 2007: 12) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja  dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen”.
Pendapat ini didukung oleh Lie (dalam Isjoni 2007:16) bahwa ”pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong royong,  yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur”.
Sedangkan Menurut Isjoni (2007:6) menyatakan bahwa dari beberapa pendekatan diatas maka dapat disimpulkan tentang ciri-ciri pembelajaran Pembelajaran kooperatif yaitu: “pembelajaran kooperatif adalah belajar bersama-sama, saling bantu membantu antara satu dengan yang lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya”.
  1. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok.
  2. Kelompok tersebut merupakan kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda.
  3. Para siswa didalam kelompok tersebut saling bekerja sama dan saling membantu dalam memahami bahan pelajaran.
  4. Masing masing anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan teman anggota kelompok.
Menurut Lungdren ( dalam Isjoni 2007:13), unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
  1. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”
  2. Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
  3. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
  4. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab diantara para anggota kelompok.
  5. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
  6. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
  7. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

B.      Metode  Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Metode pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah salah satu metode dari model pembelajaran kooperatif dimana siswa berinteraksi dengan seorang pasangannya dan kemudian berdiskusi untuk berbagi berbagai informasi. Strategi ini dilakukan untuk mengefektifkan pembagian informasi secara efesien. Menurut Arends (dalam Trianto, 2007 : 61) menyatakan ”prosedur yang digunakan dalam think-pair-share dapat memberikan siswa lebih banyak waktu berfikir, untuk saling merespon dan membantu”.
Menurut Alma (2009: 91) think-pair- share adalah ”pertanyaan diajukan untuk seluruh siswa, lalu setiap siswa memikirkan jawabannya kemudian siswa dibagi berpasangan dan berdiskusi, pasangan ini melaporkan hasil diskusinya dan berbagi pemikiran dengan seluruh kelas”.
   Menurut Arends ( dalam Trianto, 2007 : 61) menyatakan bahwa langkah langkah dalam penerapan TPS yaitu:
a.       Langkah 1: berfikir (Thinking)
            Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah.
b.      Langkah 2: berpasangan (Pairing)
            Selanjutnya guru meminta siswa berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberikan  waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
c.        Langkah 3 : berbagi (Sharing)
            Guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruh kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif sampai sekitar sebagaian pasangan mendapatkan kesempatan untuk melaporkan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa  metode TPS adalah diawali dengan proses Think (berfikir), siswa berfikir terlebih dahulu terhadap masalah yang disajikan guru, kemudian Pair (berpasangan), siswa diminta untuk membentuk pasangan dan berdiskusikan apa yang telah dipikirkannya secara mandiri dan diakhiri dengan share (berbagi), setelah tercapai kesepakatan tentang pikirannya, maka salah satu pasangan membagikan kepada seluruh kelas apa yang menjadi  kesepakatan dalam pasangannya kemudian dilanjutkan dengan pasangan lain hingga sebagian pasangan dapat melaporkan mengenai berbagai pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki.
Model  pembelajaran kooperatif tipe TPS Menurut  Assyafi'i (2009: 43) memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan antara lain:
1)      Kelebihan TPS (think-pair-share)
  •      Memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling    membantu satu sama lain 
  •       Meningkatkan partisipasi akan cocok untuk tugas sederhana.
  •       Lebih banyak kesempatan untuk konstribusi masing-masing    anggota kelompok.
  •       Interaksi lebih mudah
  •       Lebih mudah dan cepat membentuk kelompoknya
  •     Seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain dalam masing-masing    pasangan untuk saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum   disampaikan di depan kelas
  •    Dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan    untuk berpartisipasi dalam kelas
  •       Siswa dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam    komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu    dalam kelompok kecil
  •      Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya    dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.
2)      Kelemahan TPS (think-pair-share)
  •      Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas
  •    Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu    pengajaran yang berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan   yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.
  •      Menggantungkan pada pasangan
  •      Jumlah kelompok yang terbentuk banyak.
Selain kelebihan dari TPS diatas ada beberapa alasan perlu menerapkan  TPS. Menurut Anatahime (2008: 5) alasan mengapa perlu menggunakan think-pair-share diantaranya:
1) Think-pair-share  membantu menstrukturkan diskusi. Siswa mengikuti proses yang telah tertentu sehingga membatasi kesempatan berfikirnya melantur dan tingkah lakunya menyimpang karena mereka harus berfikir dan melaporkan hasil pemikirannya ke mitranya.
2) Think-pair-share meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya informasi yamg diingat siswa. dengan think-pair-share siswa belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide dalam konteks yang tidak mendebarkan hati sebelum mengemukakan idenya ke dalam kelompok yang lebih besar.
3)  Siswa dapat mengembangkan kecakapan hidup sosial mereka. Dalam think-pair-share mereka juga merasakan: saling ketergantungan positif karena mereka belajar dari satu sama lain, menjunjung akuntabilitas individu karena mau tidak mau mereka harus saling berbagi ide, dan wakil kelompok harus berbagi ide pasangannya dan pasangan yang lain atau keseluruh kelas

1 comment:

  1. boleh tau referensi anatahime (2008) itu judul buykunya apa???
    terimakasih

    ReplyDelete